Sabtu, 11 Mei 2013

Misteri Dibalik Illuminati Card : WTC 09/11 Attack

Foto: Misteri Dibalik Illuminati Card :  WTC 09/11 Attack

Berbagai hal, mulai dari kontroversi, spekulasi, misteri, dan konspirasi muncul dari peristiwa ini. Ada orang yang berduka dan mengutuk serangan itu, ada pula menganggap peristiwa itu sebagai sebuah rekayasa. Apapun pendapat orang, semua itu tidak akan mengubah sejarah yang telah terjadi. Tanpa disadari, peristiwa 9/11 telah mengubah dunia yang kita tinggali dan orang-orang yang ada di dalamnya.

Salah satu misterinya adalah kejadian ini “suatu pagi pada tanggal 1 maret 1990, tanpa diberitahu terlebih dahulu, agen Secret Service (USSS) merazia kantor pembuatan game Steve Jackson”.  Beberapa Perlengkapan juga disita seperti, 4 komputer, 2 laser printer, beberapa harddisk dan perangkat keras lainnya.

Permainan kartu ini pertama kali masuk ke  toko-toko permainan tahun 1995  dan meraih beberapa penghargaan. Yang mengherankan adalah Steve Jackson, dia membuat kartu “terrorist Nuke” yang memiliki gambar seperti penyerangan WTC dan Pentagon yang terjadi beberapa tahun berikutnya.

Sekilas Tentang Aturan Main

Permainan ini dimainkan dengan cara mengambil, menghancurkan dan menetralisir grup yang bebas atau milik orang lain. Lawan Bisa mempertahankan Grup, menggunakan taktik tertentu dan lainnya. Satu Boxnya terdiri dari 6 kartu Illuminati: The Bavarian Illuminati, The Discordian Society, The Ufo’s , The Servants Of Cthulhu, The Bermuda Triangle, The Gnomes Of Zurich, Society Of Assassins, The Network, Church Of SubGenius, dan Shangri-la. Kartu Illuminati ini Akan mengambil Grup lain, grup tersebut bisa mengambil grup lain juga. 

======================================

Beberapa kejanggalan lain dalam peristiwa ini :

Ribuan orang Yahudi libur di hari itu

Tampaknya 4.000 orang Yahudi yang bekerja di WTC sepakat untuk mengambil cuti bersama di hari naas itu. Atau mungkinkah mereka sudah mengetahui bahwa gedung mereka bekerja akan mendapat serangan dari teroris?

Ribuan orang jadi saksi mata, termasuk Presiden Bush

Kejadian memilukan itu tidak hanya disaksikan oleh ribuan orang di sekitar area, tapi juga oleh Presiden George W. Bush. Ketika WTC diserang, Bush sedang duduk di luar ruang kelas dan melihat pesawat terbang yang menabrak menara kembar itu.

Kebakaran di area WTC berlangsung selama 3 bulan

Atau lebih tepatnya butuh 99 hari untuk memadamkan api di Ground Zero hingga tuntas. Api pertama yang muncul pada 11 September pukul 8.46 ketika pesawat pertama menabrak Menara Utara baru bisa dipadamkan pada 19 September 2001.

Ket : salah satu kartu dalam game “The Illuminati Card Game”
-HA-
Berbagai hal, mulai dari kontroversi, spekulasi, misteri, dan konspirasi muncul dari peristiwa ini. Ada orang yang berduka dan mengutuk serangan itu, ada pula menganggap peristiwa itu sebagai sebuah rekayasa. Apapun pendapat orang, semua itu tidak akan mengubah sejarah yang telah terjadi. Tanpa disadari, peristiwa 9/11 telah mengubah dunia yang kita tinggali dan orang-orang yang ada di dalamnya.


Salah satu misterinya adalah kejadian ini “suatu pagi pada tanggal 1 maret 1990, tanpa diberitahu terlebih dahulu, agen Secret Service (USSS) merazia kantor pembuatan game Steve Jackson”. Beberapa Perlengkapan juga disita seperti, 4 komputer, 2 laser printer, beberapa harddisk dan perangkat keras lainnya.

Permainan kartu ini pertama kali masuk ke toko-toko permainan tahun 1995 dan meraih beberapa penghargaan. Yang mengherankan adalah Steve Jackson, dia membuat kartu “terrorist Nuke” yang memiliki gambar seperti penyerangan WTC dan Pentagon yang terjadi beberapa tahun berikutnya.

Sekilas Tentang Aturan Main

Permainan ini dimainkan dengan cara mengambil, menghancurkan dan menetralisir grup yang bebas atau milik orang lain. Lawan Bisa mempertahankan Grup, menggunakan taktik tertentu dan lainnya. Satu Boxnya terdiri dari 6 kartu Illuminati: The Bavarian Illuminati, The Discordian Society, The Ufo’s , The Servants Of Cthulhu, The Bermuda Triangle, The Gnomes Of Zurich, Society Of Assassins, The Network, Church Of SubGenius, dan Shangri-la. Kartu Illuminati ini Akan mengambil Grup lain, grup tersebut bisa mengambil grup lain juga. 

======================================

Beberapa kejanggalan lain dalam peristiwa ini :

Ribuan orang Yahudi libur di hari itu

Tampaknya 4.000 orang Yahudi yang bekerja di WTC sepakat untuk mengambil cuti bersama di hari naas itu. Atau mungkinkah mereka sudah mengetahui bahwa gedung mereka bekerja akan mendapat serangan dari teroris?

Ribuan orang jadi saksi mata, termasuk Presiden Bush

Kejadian memilukan itu tidak hanya disaksikan oleh ribuan orang di sekitar area, tapi juga oleh Presiden George W. Bush. Ketika WTC diserang, Bush sedang duduk di luar ruang kelas dan melihat pesawat terbang yang menabrak menara kembar itu.

Kebakaran di area WTC berlangsung selama 3 bulan

Atau lebih tepatnya butuh 99 hari untuk memadamkan api di Ground Zero hingga tuntas. Api pertama yang muncul pada 11 September pukul 8.46 ketika pesawat pertama menabrak Menara Utara baru bisa dipadamkan pada 19 September 2001.

Ket : salah satu kartu dalam game “The Illuminati Card Game”

Sabtu, 27 April 2013

Membongkar Doktrin Kabbalah dalam Pencetusan Ilmu Psikologi

Mengapa kita harus terkejut ketika diberi fakta bahwa inti pelajaran-pelajaran di sekolah kita 95% adalah ajaran setanisme? Toh kita telah membuang Tuhan Yang Maha Esa dari sekolah-sekolah umum kita sudah sejak awal tahun 1960-an. Jadi, sekarang sekolah milik kita telah dibersihkan dari Tuhan selama tiga dekade, sekarang saatnya untuk memperkenalkan agama Anti-Kristus, murni Setanisme. Namun, pengenalan ini, setidaknya pada tahap awal, harus disamarkan, sehingga sebagian besar guru dan pengelola sekolah akan tertipu untuk sifat sejati ajaran ini. Jadi, Setanisme ajaran ini telah diperkenalkan ke sekolah-sekolah kita dengan kedok psikologi. (David Bay, Praktisi Pendidikan di Amerika).

Anda tahu bagaimanakah sebenarnya istilah Psikologi muncul? Tolong jangan ambil buku psikologi anda dulu. Karena disitu anda tidak akan pernah menemukan jawaban yang sebenarnya saya inginkan. Atau karena jabatan anda mahasiswa, psikolog dan konselor mungkin dengan itu bisa sekedar meredakan ketidakoptimisan saya? Ya sekalipun anda mahasiswa strata satu, bergelar master, atau mungkin saudara anda bertitel Profesor Psikologi sekalipun. Ini bukan saya mengecilkan arti pribadi anda, atau saya pesimis tentang wawasan keilmuan anda. Saya yakin anda orang hebat, tapi saya tidak yakin kurikulum keilmuan kita selama ini menampilkan fakta apa adanya tanpa aurat. Karena sekarang kita sedang berbicara tentang bagaimana sebuah rahasia disusun rapih. Tentang sebuah makna konspirasi yang tidak bisa dibaca dengan mata telanjang. Tentang bagaimana sebuah perkumpulan bawah tanah yang sedang bergerak membangun dunia. Dan tentang bangunan sistem nilai yang tengah dirancang untuk membuat tatanan dunia baru dengan menyingkirkan sistem yang kita yakini.

Pergulatan Psyche
Suatu ketika Almarhum Sukanto MM, salah seorang akademisi yang begitu konsen terhadap Psikologi, sekaligus pencetus Nafsiologi, merasa keheranan yang luar biasa. Ia begitu bingung kenapa nama Psikologi harus dicomot dari istilah Psyche, gubahan Plato, filosof Yunani Kuno klasik dari 25 abad yang lalu itu. Padahal Plato hanya memberikan sinyal Psyche dari hasil lamunan semata, bersifat insitingtif dan pastinya spekulatif. Jika ditelusuri lebih jauh Plato dalam hipotesanya membagi manusia menjadi tiga bagian, yakni, akal, afeksi, dan nafsu. Akal menjuntai dikepala, afeksi terletak di dada, dan nafsu berada di perut.
Almarhum Sukanto menangkap jelas bahwa struktur Psyche Plato mengalami invaliditas kebenaran ilmiah. Alhasil Psikologi Plato telah kadung dicap gagal untuk menyerap aspirasi publik modern yang haus atas nafas keshahihan sebuah ilmu.
Selanjutnya, pengajar di Universitas Islam Batik Solo tersebut mengatakan gagasan Aristoteles dengan Entelechi-nya sedikit lebih baik, ketimbang mengacu kepada trilogy Plato itu. Sebab spekulasi yang sifatnya elementer seperti yang Plato cetuskan amat sukar dibuktikan. Ini bisa dipahami karena konsep Niskala Plato menjadi rumit untuk diendus dengan kemampuan Inderawi. Dan mosi ketidakpercayaan atas Psikologi menjadi tidak terelakkan.
Fakta menarik ditemukan bahwa sedari dulu Aristoteles sebagai murid Plato sendiri memang meyangkal adanya psyche yang diurai gurunya tersebut. Menurut Aristoteles, entelechi dengan badan membentuk kesatuan total sebagai susunan monodualis, bukan susunan dikotomi seperti dugaan Plato. Nah lho… Mungkin Pak Kanto, ingin berujar, “Terus buat apa kita gembar-gembor kan kata Psikologi? Konyol bukan?”. Namun yang lebih penting bahwa buku-buku psikologi sendiri tidak menjelaskan bagaimana sejarah Plato dan siapa Plato sebenarnya.

Plato, Seorang Kabbalis
Adalah David Livingstone yang menjawab itu. Ia menulis dalam artikelnya “Plato The Kabbalist”. Jika anda belum mengenal studi tentang Yahudi, singkatnya Kaballah adalah “satanic ideology” yang dari zaman Mesir Kuno dan hingga saat ini telah mewarnai pemikiran keilmuan dunia demi kelanggengan gegemoni ajaran Yahudi. Mengacu pada mos tersebut, tak berlebihan bahwa nama Kaballah adalah sisi terpenting dalam entitas Sistem Nilai Yahudi yang akan menguasai dunia kelak. Kesemuanya itu popular dalam sebutan New World Order: Sistem Dajjal, kata Ahmad Thompson.
Seperti kepercayaan Mesir purba, Kabbalah menolak keras bahwa hakikat material terjadi dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Kabbalah juga memvonis penciptaan manusia ala Islam menjadi sebuah isu semata. Bagi Kaballah, manusia adalah reinkarnasi, persis seperti teori evolusi Darwin. Individu juga tidak boleh diatur dalam sekat-sekat agama, karena manusia haruslah bebas membuat apa saja yang mereka kehendaki. Bagaimana mungkin manusia menjadi ampuh untuk diatur sedangkan individu adalah pusat materi. Dari titik tolah inilah timbul gagasan humanisme yang dalam psikologi bernama psikologi humanistik dan psikologi transpersonal.

Untuk lebih jeli memperhatikan pergerakan mereka, David Livingstone harus sampai menulis sebuah artikel monumental berjudul, Plato The Kabbalist. Disitu ia menulis bahwa harus menjadi keprihatinan kita bahwa gurita Filsuf Kabbalis seperti Plato ini telah menjadi pilar banyak doktrin yang telah melanda abad kedua puluh. Dan konyolnya, satu-satunya alasan dia telah mencapai reputasi besar adalah bahwa dalam rimba sejarah Barat dan Timur, tradisi okultisme Plato telah dianggap sebagai “godfather” dari berbagai doktrin, dan sebagai wakil besar dari orang-orang yang berhubungan dengan tradisi kuno Kabbalah.
Apakah benar psikologi humanis lebih dekat dengan manusia? Ya betul, dekat dengan manusia, tapi sekaligus jauh dari Tuhan, dalam artian mereduksi peran ketuhanan dalam aspek kehidupan manusia dan menjadikan peran manusia (makrokosmis) dan aspek primordialnya (mikrokosmis) sebagai pengertian tuhan itu sendiri bagi mereka (naturalisme/matrealisme). Mengutip apa kata Harun Yahya, Humanis yang sejatinya atheis ini telah berhasil menipu ilmuwan, apalagi mahasiswa.
Pada sisi lain, ajaran Kaballah tanpa terendus mata kemudian berkembang biak dengan baik dalam alam konspirasi keilmuan yang dilakukan Freemasonry (perkumpulan rahasia Yahudi). Padahal tradisi tersebut bertentangan dengan semangat ilmu, sebab tradisi Kabballah berasal dari peradaban jahiliah Mesir Purba, Yunani Purba, dan Rom yang telah membangun pra konsepsi akan sebuah atheisme sains. Di mana mereka yang seperti Fir’aun ini tidak mengakui wujud dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cara mereka untuk melanggengkan jalan ini adalah dengan membina Heliopolis dan Memphis di mana tempat ini adalah sumber ilmu pengetahuan dan sains. Nama-nama seperti Pythagoras, Plato dan Cicero adalah sederetan filsuf yang menyertai Freemason ketika itu.

Majalah Mimar Sinan menyatakan tanggungjawab Fir’aun adalah mencari cahaya yakni ilmu. Ketika itu anggota Freemason berusaha membina kuil Sulaiman untuk memuluskan misi-misinya. Kisah ini ternyata tertangkap basah dan diberi garis bawah dengan jelas oleh Al- Qur’an pada surah Az-Zukhruf, ayat 54-55
“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). “Secara gamblang, historitas pergerakan mereka seperti yang diendus Al Qur’an berkembang dengan tujuan gerakan Freemasonry secara umum memiliki empat visi yakni, Menghapus semua agama. Menghapus sistem keluarga. Mengkucarkacirkan sistem politik dunia. Selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia

Perdebatan Pscyhe dalam Teologi Kristen
Yang menarik adalah bahwa istilah ideology Kaballah dalam Psyche Plato sebelumnya sudah menjadi perdebatan sengit dalam teologi Kristen. Teolog Kristen menolak tegas penggunaan psyche. Karena mereka tahu betul bahwa menerima psyche sebagai sebuah pemahaman akan berimplikasi pada ketuhanan Yesus.
Dalam sebuah catatan dari Wisma Gembala, dikisahkan bahwa Pada 300 tahun sebelum kelahiran Kristus, Alexander Agung (Iskandar Agung), merambah dan menjajah banyak negeri. Dari Yunani dia bergerak menaklukkan seluruh Asia Barat, lalu menaklukkan Afghanistan, bahkan sempat memasuki India, sebelum penjelajahannya berakhir. Selama ratusan tahun, negeri Israel berada di bawah penjajahan Yunani (sebelum penjajahan Romawi), sehingga pada masa Yesus, bahasa Yunani menjadi bahasa sehari-hari di Israel. Masuk jugalah budaya dan ajaran Yunani ke dalam pemahaman para pengajar Israel di kala itu. Selanjutnya di catatan itu dijelaskan bahwasanya Guru-guru bangsa Yunani adalah ahli-ahli filsafat yang dihormati. Mereka hanya mengakui dewa-dewi. Yang Maha Tinggi, dan mereka beri sebutan ‘Theos’.

Pada esensinya, Filosof Yunani menganut paham bahwa manusia terdiri atas dua bagian saja atau biasa disebut teori Manusia-2-unsur. Pertama, unsur yang kasat mata (baca: tubuh) dan unsur yang tidak-kasat-mata yang dalam filosofi Yunani kemudian disebut ‘psyche’ dan dalam bahsa Indonesia dikenal dengan aksioma jiwa. Paham filsafat Yunani ini mengajarkan lebih jauh bahwa ‘psyche’ adalah sesuatu yang abadi dan pasti tidak dapat binasa. Hal ini tertuang dalam buku “Memperkenalkan Theologia Perjanjian Baru” hlm.72 karangan A.M.Hunter yang menjelaskan bahwa:

“Berikutnya, Kebangkitan itu menunjukkan kekalahan maut. Ini memerlukan pendefinisian yang hati-hati. Mari kita menjelaskannya dengan mengatakan, bahwa orang Kristen pertama tidak mengatakan bahwa Kebangkitan itu suatu pembuktian dramatis kebenaran bahwa manusia tinggal hidup sesudah kematian: seolah-olah suatu bukti lagi yang ditambahkan kepada serentetan bukti-bukti tentang keabadian jiwa (suatu doktrin yang bukan Yahudi, melainkan Yunani).”
Dari sini kita menjadi paham bahwa dari pemikiran filsafat Socrates dan Plato (dua orang filosof Yunani) berkembanglah apa yang kita kenal selama ini, yakni Ilmu Psikologi! Wisma gembala menjelaskan bahwa sejatinya psikologi bukanlah sebuah ilmu yang kita bayangkan sebelumnya. Selama ini kita mencicipi definisi psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mempelajari perilaku dengan metode ilmiah. Namun sejatinya psikologi tak bisa berkelit ketika tertangkap tangan tengah mencoba melenyapkan Tuhan di dalam seluruh pengajarannya (baca: atheistik) dan menjalankan nilai-nilai kebadian khas Kabbalis! Baik itu mengeyampingkan konteks Tuhan seperti psikologi behaviorisme dan psikoanalsis atau menjadikan manusia untuk menggantikan peran tuhan seperti psikologi humanistik maupun transpersonal. Baik teori intelegensi, teori kepribadian, teori sosial, atau praktik konseling.
Psikologi transpersonal ini pula yang berkembang menjadi pluralisme psikologi dimana pada dasarnya tiap manusia mampu menyingkap ‘esoterisme’ apapun agamanya. Bahkan tidak hanya itu, manusia bisa mengklaim diri sebagai Tuhan apapun ‘tuhannya’. Itu memang menjadi keniscayaan hingga kini. Bayangkan Calvin Hall dan Gardner Lindzey saja dalam tiga jilid bukunya (yang menjadikan rujukan fakultas psikologi) tak satupun merumuskan tiga aliran Psikologi yang menyertakan Tuhan dalam tampilan yang sebetulnya. Setali tiga uang, John Nevid dalam Psikologi Abnormal-nya pun demikian.

Ivan Pavlov lebih gila lagi mencoba menyebut manusia sebagai binatang. Sigmund Freud? jangan ditanya, orang shalat saja dibilang sakit. Ini semua bermula dari gagasan materialisme dan humanisme yang dipelajari dan dipraktekan para psikolog terhadap pasien-nya dan konselor kepada anak didiknya.
Selanjutnya, dari fakta penjajahan Yunani ini serta fakta bahwa Perjanjian Baru awalnya di tuliskan di dalam bahasa Yunani, terjadilah perembesan paham. Menurut teologi Kristen inilah rupanya yang mengakibatkan masuknya istilah ‘psyche’ (Indonesia: ‘jiwa’) ke dalam Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Baru, istilah ‘jiwa’ ditemukan dalam 34-ayat, tetapi yang paling tersohor adalah yang dianggap menopang Teori Manusia yang terdiri dari 3 unsur. Pertama dalam Matius .10:28
“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Dan kedua dalam Ibrani.4:12,
“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”Selanjutnya dapat diuraikan bahwa dalam waktu yang bersamaan, di Israel masih terpelihara pengajaran dari filsafat agama Yahudi, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas dua bagian juga: bagian yang kasat mata (Indonesia: tubuh) dan yang tidak-kasat-mata (Ibrani: ‘ruach’; Indonesia: ‘roh’ atau ‘nafas-kehidupan’). Ini adalah Teori Manusia 2 unsur yang berasal dari Filosof Yunani, yang tidak mengakui hadirnya roh-roh. Dengan tidak mengakui adanya roh, ajaran ini juga tidak mengakui adanya Tuhan. Sebab Roh adaah bagian dari Tuhan.

Apa yang menjadi kekhawatiran para penganut Kristiani dalam melihat Psikologi sebenarnya tidak lepas dari andil ideologi humanisme yang mengklaim bahwa manusia bertanggung jawab besar terhadap keberadaannya. Kaum Kabbalis menolak intervensi Tuhan dan turut serta menyanjung Iblis sebagai alam yang membawa pencerahan atau akrab disebut dengan istilah Lucifer.
Kaum Kabbbalis mempercayai bahwa kekuasaan yang berasal dari cahaya, api dan matahari merupakan simbolisasi dari iblis. Namun tentunya mereka tampil tidak dengan rupa yang menakutkan, karena Lucifer kemudian melahirkan Illuminati yang berjalan dengan baju indah tapi bernama ideologi sains tanpa Tuhan.
Kesemuanya hadir atas nama ilmiah, demi sebuah objektifitas. Dan kita semakin mengerti bahwa istilah ilmu itu objektif dan mestilah empiric, lahir dari gagasan ini, termasuk psikotes yang sarat positivistik. Seperti yang sudah penulis uraikan, bahwa kesemua itu pada dasarnya adalah tipuan semata dan taktik bagaimana Barat ingin membunuh Tuhan tanpa meninggalkan jejak.

Jika kita teliti mendalam, kekhawatiran itu sebenarnya tidak saja mendera Gereja. Kita bisa menyimpulkan bahwa Istilah Psyche inilah yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan Psikologi. Studi ilmu yang hakikatnya dalam Islam dinilai sebagai upaya mendekatkan kita kepada jalan takwa, diubah sedemkian rupa untuk menjatuhkan umat muslim pada lubang yang ditutupi daun bernama misi menghapus agama. Korbannya adalah kita-kita semua, murid kita, anak kita, dan lebih bahaya lagi masa depan serta akidah kita. Jalan terang dari Islam untuk melawan Hegemoni Yahudi..

David Livingstone melihat doktrin Kabbala kepada hal yang lebih mendalam lagi. Bahwa filsafat yang kadung kita sebut sebagai pucuk ilmu, ternyata semata-mata merupakan perampasan ide-ide dari orang Majus Babel, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh ide-ide Kabbalistik Yahudi awal.
Tanpa dinyana thesa Livingstone telah merasuk ke puluhan ribu fakultas dan jurusan Psikologi yang ada di dunia, termasuk seratusannya bercokol di Negara penduduk Muslim ini. Adnin Armas MA dalam sebuah kesempatan pada kajian keislaman di INSIST mengungkapkan sebuah fakta. Ia mengungkapkan sebuah perjalanan ilmu yang coba disangkutkan kepada Sistem Peradaban Yunani. Isitah-isitlah ilmu yang mestinya menjadi domain yang khas Islam, tak bisa dielakkan selalu dibenturkan kepada peradaban Yunani. Kita ketahui bersama bahwa isitlah segala ilmu dan peradaban kerap diacarikan akarnya dari peradaban Yunani, seperti contoh Demokrasi, dari kata Yunani Demos Kratos. Antropologi, anthropos dan logos. Padahal secara jujur filosofi Yunani tidak menyumbangkan makna “Tuhan” bagi umat Islam. Cenderung merusak dan jauh dari harapan.
Ditambahkan oleh Armas, mengutip atas apa yang diteliti oleh Adi Setia dalam Thesisnya di ISTAC, Malaysia, bahwa peradaban Yunani ternyata tidak berdiri tunggal. Corak filsafat Yunani memiliki rumpun yang muaranya bisa “diprovokasi” pada pengaruh kuat peradaban Mesir Kuno. Sebuah peradaban yang sebelumnya telah eksis.

Balik kepada perdebatan awal, istilah Psyche yang diungkapkan oleh Plato, memang tidak hanya mengalami kecacatan ilmiah dalam literature saintifika, tapi juga menjadi semakin terang kekeliruannya ketika Islam ikut bermain untuk menjawab dalam carut marut ini. Dalam warisan epistemologi Islam, gagasan Psyche tidaklah menegasikan tentang arti Tuhan.
Pak Sukanto Mulyomartono dalam bukunya Nafsiologi Suatu Pendekatan Alternatif atas Psikologi, lebih khusus menampik aksara psyche dan menyebut psikologi dengan istilah baru, yakni “Nafsiologi.” Penggunaan istilah ini disebabkan objek kajian psikologi dalam Islam adalah al-nafs, yaitu aspek psikopisik pada diri manusia. Term al-nafs tidak dapat disamakan dengan term soul atau psyche dalam psikologi kontemporer Barat dan Plato, sebab al-nafs merupakan gabungan antara substansi jasmani dan substansi ruhani, sedangkan soul atau psyche hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia.

Sukanto melanjutkan bahwa jika Psyche adalah simbiosa hasil pikiran manusia, maka nafsiologi membahas nafs yang pengertiannya diambil dari Al Qur’an. Abdul Mujib, Profesor Psikologi Islam dari UIN Jakarta, melihat bahwa nafs dalam konteks ini berarti psikofisik manusia, yang mana komponen jasad dan ruh telah bersinergi, tidak terpisah seperti apa kata Plato. Apabila ia berorientasi pada jasad, maka perilakunya akan buruk, tetapi apabila mengacu pada natur ruh kehidupannya akan menjadi baik. Pada momen ini manusia memiliki kebebasan berkehendak yang memungkinkan manusia secara sadar mengarahkan dirinya ke arah keluhuran dan kesesatan.
Berbeda dengan Psikologi modern saat ini, Islam membicarakan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia. Aspek-aspek kejiwaan dalam Islam berupa al-ruh, al-nafs, al-kalb, al-’aql, al-dhamir, al-lubb, al-fu’ad, al-sirr, al-fithrah, dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut memiliki eksistensi, dinamisme, proses, fungsi, dan perilaku yang perlu dikaji melalui al-Qur’an, al-Sunnah, serta dari khazanah pemikiran Islam.

Sejatinya, Islam tidak hanya menekankan perilaku kejiwaan, melainkan juga apa hakekat jiwa sesungguhnya. Sebagai satu organisasi permanen, jiwa manusia bersifat potensial yang aktualisasinya dalam bentuk perilaku sangat tergantung pada daya upaya (ikhtiyar)-nya. Dari sini nampak bahwa Islam mengakui adanya kesadaran dan kebebasan manusia untuk berkreasi, berpikir, berkehendak, dan bersikap secara sadar, walaupun dalam kebebasan tersebut tetap dalam koredor sunnah-sunnah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Gagasan seperti ini tidak ada dalam literature Barat.

Mujib menambahkan bahwa nafs mempunyai potensi gharizah yang dalam arti etimologi berarti insting, naluri, tabiat, perangai, kejadian laten, ciptaan, dan dapat dipecah menuju tiga bagian, yakni (a) qalb yang berkaitan dengan rasa atau emosi. (b) Akal yang berkaitan dengan cipta dan kognisi, dan (c) nafsu yang berhubungan dengan karsa atau konasi.Satu hal yang membantah konsep psikologi saat ini, bahwa dalam Islam jiwa selalu mengakui adanya kebenaran dari Allah. Konsep fitrah yang menjadi trademark Islam dengan jelas disebut oleh al-Ghazali ketika mengurai nafs. Al-Ghazali menyatakan bahwa kalbu memiliki jiwa ruhani yang disebut kalbu ruhani. Karakteristiknya menurut al-Ghazali menarik untuk disimak:

1. Ia memiliki insting yang disebut annur al ilahi (cahaya ketuhanan) dan al bashirah al bathiniah (mata batin) yang memancarkan keimanan dan keyakinan.
2. Ia diciptakan oleh Allah sesuai dengan fitrah asalnya dan berkecendrungan menerima kebenaranNya

Dengan konsep fitrah, Islam memandang bahwa semua manusia adalah baik dan manusia selalu ingin kembali kepada Kebenaran Sejati (Allah). Ini dipertegas dalam al-Qur’an, surat al A’raaf7:172.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”,Plato juga tidak bisa menampik bahwa Ruh adalah elemen yang penting dalam skala jiwa manusia. Dimana Ruh adalah nyata sesuai yang tertuang dalam Al Qur’an.
“Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”(Surat At Tahrim ayat 12)

Para ulama klasik juga menyusuri gagsan tentang Ruh dalam struktur kehidupan manusia. Ibnu Taimiyyah, misalnya menyatakan bahwa kata al-ruh juga digunakan untuk pengertian jiwa (nafs). Ruh yang mengatur badan yang ditinggalkan setelah kematian adalah ruh yang dihembuskan ke dalamnya (badan) dan jiwalah yang meninggalkan badan melalui proses kematian. Ruh yang dicabut pada saat kematian dan saat tidur disebut ruh dan jiwa (nafs). Begitu pula yang diangkat ke langit disebut ruh dan nafs. Ia disebut nafs karena sifatnya yang mengatur badan, dan disebut ruh karena sifat lembutnya. Kata ruh sendiri identik dengan kelembutan, sehingga angin juga disebut ruh.
Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah menggunakan istilah ruh dan nafs untuk pengertian yang sama. Nafs (jiwa) adalah substansi yang bersifat nurani ‘alawi khafif hayy mutaharrik atau jism yang mengandung nur, berada di tempat yang tinggi, lembut, hidup dan bersifat dinamis. Jism ini menembus substansi anggota tubuh dan mengalir bagaikan air atau minyak zaitun atau api di dalam kayu bakar. Selama anggota badan dalam keadaan baik untuk menerima pengaruh yang melimpah di atasnya dari jism yang lembut ini, maka ia akan tetap membuat jaringan dengan bagian-bagian tubuh. Kemudian pengaruh ini akan memberinya manfaat berupa rasa, gerak dan keinginan.

Di dalam ayat yang lain, Allah menyebut Al-Qur’an dengan ruh, dan salah satu makna ruh di sini adalah segala yang menjadikan hati hidup penuh dengan makna. Sebagaimana halnya tubuh, jika di dalamnya ada ruh maka dia akan hidup dan jika ruh keluar dari badan maka dia akan mati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu/Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.،¨ (QS. Asy-Syuraa: 52) Sayyid Quthb juga mendelegasikan pandangannya tentang penamaan Al-Qur’an dengan ruh berdasarkan firman Allah: “(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang memberi ruh dengan (membawa) perintahNya kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (QS. Ghafir: 15) Redaksi yang digunakan dalam ayat ini mengisyaratkan dua hal: pertama, bahwa wahyu (Al-Qur’an) adalah ruh dan kehidupan bagi manusia, tanpa ruh ini manusia tidak akan bisa hidup dengan baik dan benar.

Kedua, bahwa wahyu itu turun dari tempat yang tinggi kepada siapa yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Redaksi ini bertepatan dengan sifat Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Dengan begini gagasan Plato tentang Psyche dan Psikologi jelmaan Kaballah saat ini menjadi terbantahkan. Hegemoni kaballah dalam epistemology Psikologi mengalami dua problem vital yang harus menjadi pusat perhatian para ilmuwan Muslim. Pertama karena gagasan psyche Plato dan derivate psikologi saat ini menggiring opini kita untuk mengingkari keberadaan Tuhan, dan lebih-lebih tidak hanya itu psikologi saat ini mencoba membunuh Tuhan serta mempromosikan nilai-nilai Kaballah.

Kedua, warisan Kaballah mencoba melanggengkan determenisme materi asbolut yang tidak diciptakan dari ketiadaan, tapi sudah ada. Ini berbenturan dari konsep manusia dalam Islam bahwa manusia diciptakan dari ketiaadaan. Al Ghazali dalam Kitab Kimiatus Sa’adahnya sampai harus mengingatkan perkara seperti ini dalam Bab Marifatullah-nya dengan sebuah ayat,
Tidakkah manusia tahu bahwa sebelumnya ia bukan apa-apa (76:1)Dengan melihat persekongkolan jilid awal dalam psikologi ini, tentunya hegemoni Yahudi belumlah usai, masih banyak derivate dari nilainya yang berkamuflase dalam psikologi dan konseling kedepannya. Semangat untuk melawannya haruslah menjadi ijtihad semua umat muslim, baik mahasiswa, dosen, akademisi, ulama, dan sebagainya.

ref= Eramuslim.com

Senin, 22 April 2013

Awal Mula Agama Kristen

Nabi Isa as. merupakan nabi yang diturunkan Allah kepada Bani Israil. Tugasnya adalah untuk menyelamatkan Bani Israil dari kesesatan yang telah lama dilakukan kaum tersebut.

Allah SWT masih menyayangi kaum Musa as ini dan menurunkan satu nabi lagi khusus untuk mereka. Nabi Isa as. mengaku jika dirinya diutus Allah hanya untuk kaumnya saja, Bani Israil, dan bukan untuk umat manusia seluruh dunia.

Di dalam Injil sendiri ada peristiwa di mana Yesus menolak seorang wanita Kanaan (Palestina) yang meminta anaknya disembuhkan dari kemasukan setan, Yesus menolak dan mengatakan, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 :24).

Yesus sendiri menolong perempuan itu juga, namun tidak menyuruh perempuan itu untuk ‘pindah keyakinan’. Penegasan itu juga nampak dari pesan Yesus kepada para muridnya yang mewanti-wanti mereka untuk tidak menyebarkan ajarannya kepada orang selain dari Bani Israil. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka:

“Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 10:5-6)

Telah jelas bahwa Yesus menegaskan dirinya hanya untuk Bani Israil. Namun para misionaris mengklaim bahwa hal itu hanya berlaku sebelum kebangkitan. Setelah dibangkitkan maka misinya untuk umat manusia seluruh dunia. Perubahan mendasar ini berangkat dari ajaran Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus yang mengaku-aku sebagai murid Yesus.

Ajaran Paulus inilah, ditulis pada 49 Masehi (Galatia, yang mempengaruhi Injil-injil yang ditulis sesudahnya yakni injil Markus (55 M), Injil Matius (60-an M), Injil Yohanes (80 M), dan Injil Lukas (60 M).

Paulus, Yahudi dari Tarsus, di dalam banyak ayat Injil digambarkan sebagai seorang murid yang banyak tidak patuh pada Yesus, bahkan Yesus dalam banyak ayat memarahi dia hingga menendangnya.

Paulus inilah yang kemudian mengubah ajaran Nabi Isa as. yang berhaluan paganisme Yahudi. Namun hal ini terjadi tidak terlepas dari kondisi sosial budaya bangsa Yahudi sebelum masa Nabi Isa. turun. Minimal ada tiga kondisi yang bisa kita telaah.

Pertama, Aqidah orang-orang Yahudi telah terkontaminasi kepercayaan Paganisme Babilonia. Sekitar 50 tahun (586-535 SM) bangsa Yahudi berada di pengasingan di Babilonia yang masyarakatnya menyembah berhala.

Kedua, pada tahun 334 SM, Alexander raja Yunani menguasai bangsa Yahudi dan menyebarkan faham Filsafat yang kemudian mempengaruhi pemikiran orang-orang Yahudi.

Ketiga, bangsa-bangsa yang menaklukan orang-orang Yahudi adalah penganut politeisme. Ini pun berpengaruh kepada aqidah bangsa Yahudi.

Ketika Nabi Isa as, menyampaikan ajaran Allah SWT, pengaruh kepercayaan paganisme memang sudah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat, maka terjadilah penyimpangan pemahaman oleh Paulus terhadap ajaran yang dibawa Nabi Isa as.

Paulus pun mengklaim bahwa telah bertemu Yesus (Isa) dan diangkat sebagai rasulnya. Ia kemudian mengajarkan ajaran Isa yang telah dicampur adukkan dengan filsafat Yunani dan Paganisme.

Allah SWT sudah mengingatkan hal ini dalam Surah Al Baqarah ayat 87:

“..Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Surah Al Baqarah ayat 87).

Tiga abad setelah peristiwa penyaliban, pengikut ajaran Nabi Isa as. berkembang dengan beragam corak pemahamannya. Terjadi bentrokan diantara mereka antara kalangan yang pro ajaran Tauhid dari Nabi Isa as. dengan yang kontra.

Mereka yang kontra notabene adalah kelompok pro ajaran Paulus yang paganis. Peperangan ini sampai mengancam keutuhan kerajaan Roma. Karenanya, atas usulan Konstantin diadakanlah Muktamar di Nicea pada tahun 325 Masehi yang dihadiri sekitar 2.048 orang dengan pendiriannya masing-masing.

Terjadi perdebatan yang sengit dan tak ada titik temu. Akhirnya Konstantin yang cenderung pada paganis memanggil 318 orang yang berfaham Paulus dan menyatakan dukungannya. Setelah itu muktamar dilanjutkan, sementara itu peserta lainnya melakukan walk out.

Di dalam muktamar ini banyak dipilih doktrin-doktrin dan syiar–syiar ibadah secara voting (tanggal paskah, peranan uskup, dan tentu saja tentang ketuhanan Yesus). Setelah itu diadakanlah revisi terhadap Injil. Sementara injil-injil lain yang bertentangan dimusnahkan. Dan orang yang berani membaca injil terlarang itu akan dicap sebagai heretis (berlaku bid’ah).

Perihal apakah injil yang asli masih adakah sampai saat ini? Allahua’lam. Namun hemat saya, permasalahannya bukan pada masih ada yang aseli atau tidak, namun injil hanya berlaku bagi kaum Nabi Isa as. saja, sedangkan sekarang kita sebagai umat muslim telah memiliki kitab Suci Al Qur’an sebagai kitab yang dijaga keasliannya oleh Allah SWT hingga akhir zaman.

Kristen Pada Masa Rasulullah SAW

Tentu pada zaman Rasulullah SAW ada golongan yang beragama Nashrani. Menurut Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi, dalam Hidayatu Al-Hayara fi Ajwibati Al-Yahud wa An-Nashara, umat Nasrani pada masa Rasulullah sudah tersebar di sebagian belahan dunia.

Di Syam, (hampir) semua penduduknya adalah Nasrani. Adapun di Maghrib, Mesir, Habasyah, Naubah, Jazirah, Maushil, Najran, dan lain-lain, meski tidak semuanya, namun mayoritas penduduknya adalah Nasrani.

Terhadap mereka, Rasulullah SAW senantiasa melakukan Dakwah, seperti yang pernah beliau lakukan kepada Raja Najasyi, seorang Raja Nashrani yang tinggal di Ethiopia. Rasulullah SAW pun mengirimi surat kepada Najasyi untuk bertauhid kepada Allah SWT. Berikut adalah pesan surat tersebut:

“Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi, penguasa Abyssinia (Ethiopia). Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, baik dan terpelihara.”

“Maka ia hamil kemudian diciptakan Isa dengan tiupan ruh dari-Nya sebagaimana diciptakan Adam dari tanah dengan tangan Nya. Sesungguhnya aku mengajakmu ke jalan Allah. Dan aku telah sampaikan dan menasihatimu maka terimalah nasihatku. Dan salam bagi yang mengikuti petunjuk.”

Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada Raja Najasyi untuk menjadi seorang muslim, maka Raja Najasyi mengambil surat itu, beliau lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliaupun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Tholib radiyallahu ‘anhu.

Namun Rasulullah SAW juga pernah melakukan perperangan terhadap kaum Nashrani. Hal ini bermula ketika salah satu surat beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair ra. yang akan diberikan kepada Raja Bushra yang Nashrani.

Ketika sampai di Mu’tah, maka Syarahbil Ghassani yang ketika itu menjadi salah seorang hakim kaisar telah membunuh utusan Rasulullah SAW. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja, adalah suatu kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah atas kejadian itu.

Maka Rasulullah SAW menyiapkan pasukan sebanyak tiga ribu orang. Zaid bin Haritsah ra. telah dipilih menjadi pemimpin pasukan tersebut. Rasulullah SAW bersabda:

“Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja’far bin Abi Thalib ra. menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka pemimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah ra. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya”. Allahua’lam.

Sabtu, 20 April 2013

Peran Syiah Bersama Amerika dalam Perang Salib

Foto: Peran Syiah Bersama Amerika dalam Perang Salib

Sebuah fakta yang belum pernah diungkap adalah peran Syiah yang bekerjasama dengan Amerika dalam Perang Salib. Diwaktu para mujahidin berusaha untuk bergabung dari seluruh penjuru dunia Islam dan menyatukan barisan mereka dalam menghadapi pasukan Zionis Salibis, muncullah kelompok pengkhianat dan dajjal di Iraq dan Lebanon dengan bantuan dari Iran, untuk menikam umat Islam dari belakang. Yaitu dengan berkolusi bersama musuh Zionis Salibis dan para antek mereka, demi untuk memusnahkan ahlus sunnah dan memecahkan jaringan mereka.

Berikut penjelasan yang sangat berharga dari Syekh Aiman Azh-Zhawahiri (hfz) dan juga DR. Abdullah An Nafisi tentang hakikat Syiah dan perannya membantu Amerika dalam Perang Salib yang dikutip dari buku Fakta-Fakta Sewindu Perang Salib Baru (Al Fajr Media, Klaten, 2010). Semoga bermanfaat! 

Peran Syiah Iran dan Wilayah Al Faqih

Syekh Aiman Azh-Zhawahiri (hfz) menjelaskan akan pengkhianatan mereka : “Di sini, saya ingin mengklarifikasi sebuah poin. Poin berkaitan dengan sumber Syiah. Yaitu bahwa para ulama Syiah 12 imam secara umum menganggap diri mereka penguasa mutlak bagi imam ke 12 bagi Syiah. Yang selanjutnya mereka memiliki kekuasaan yang tidak boleh diganggu oleh rakyatnya.”

Ahmad Al-Katib (salah seorang penulis syiah) menjelaskan kedudukan Al Faqih (wilayatul faqih) dalam pemerintahan Iran : “Mereka berusaha untuk membuat korelasi antara pandangan otoritas Al Faqih dengan imamah (kepemimpinan). Artinya imam ke 12 memberikan wasiat kepada sebagian Al Faqih menjadi penerusnya sebagai wakil bagi kita. Sehingga setiap Al Faqih datang dan berkata; “Aku sebagai wakil umum imam, oleh karena itu, aku berhak berkuasa dengan cara seperti ini.”

Sebenarnya, ini pandangan yang sangat berbahaya dan memberikan mereka pengesahan untuk membuat kebijakan dalam agama maupun politik secara mutlak dan sangat luas sekali yang lebih mendekati kepada kediktaktoran agama.”

Syekh Aiman menambahkan : “Sedangkan Khomeini dan orang-orang yang setuju tentang otoritas Al Faqih sebagaimana yang ditegaskan oleh Khomeini dalam bukunya, menganggap, ‘Pemerintahan Islam’, bahwa bagi Al Faqih Al Adil semuanya berhak seperti para rasul dan para imam dalam wilayah hukum dan politik. Dan bahwa otoritas para fuqaha adalah otoritas agama dan bersifat ketuhanan, dan bahwa para nabi telah mewakilkan kepada para fuqaha, semua hal dikuasakan kepada para fuqaha serta diamanatkan kepada mereka semua yang mesti diamanatkan.

Kemudian setelah 10 tahun revolusi Iran berjalan, Khomeini menamakan teori itu sebagai “Wilayah Al Faqih Mutlak.”

Dalam surat yang diberikan kepada presiden Iran, Ali Khumaini pada tanggal 16 Jumadil Ula 1408 H, bahwa kekuasaan, yaitu wilayah yang Allah berikan kepada Nabi yang mulia, lebih didahulukan terhadap seluruh cabang kewajiban ilahi, dan bahwa pemerintahan adalah cabang dari wilayah Rasulullah SAW., yang mutlak dan lebih didahulukan daripada cabang kewajiban sampai kewajiban shalat, shaum, dan haji. Dan bahwa pemerintah dapat ditunda hanya dari satu pihak saja, persetujuan bersama yang dibuat bersama rakyat jika dilihatnya akan menyelisihi kemaslahatan negeri maupun Islam. Dan bisa memberhentikan dalam perkara ibadah maupun bukan ibadah, jika membahayakan bagi kepentingan Islam.”

Oleh karena itu, Khomeini menjadikan wali Al Faqih sebuah keabsahan seperti keabsahan Rasulullah SAW.

Ahmad Khatib menambahkan : “Faktanya, bahwa saya yakin adanya teori ini sejak tahun 1988 dimana ketika Imam Khomeini berpandangan dengan teori wilayah mutlak bagi Al Faqih sejak awal perjalanan Negara Iran dan dia melontarkan pandangan ini. Sampai dia mengatakan kepada para pengawal presiden, waktu itu Sayyid Ali Khamaini menjadi presiden. Dimana dia ditanya: “Apa tujuan otoritas mutlak bagi Al Faqih?”

Khomeini menjawab, “Anda tidak seharusnya memahami teori otoritas mutlak bagi Al Faqih.”

Teori ini memberikan kekuatan yang sangat luas. Aku katakana yang sebenarnya, bahwa Al Faqih yang berkuasa itulah yang berhak untuk menghentikn legitimasi kesepakatan yang telah dibuat oleh rakyat. Dia juga yang membuat legalitas kesepakatan bersama umat. Dia berhak memberhentikannya dari satu pihak. Saya fikir kesepakatan ini menyelisihi Islam atau menyelisihi kemaslahatan umat.”

Ketika Khamaini menjabat sebagai penasehat tertinggi maka dia memperluas keabsahan untuk mendasarkan kepada teori otoritas mutlak Al Faqih.

Ahmad Khatib menambahkan lagi : “masuk ke dalam konstitusi amandeman pada tahun 1990 atau 1989, dia menikmati ekspansi keabsahan berdasarkan teori yang dibuat Khamaini. Dan sekarang pada praktiknya, dia mengontrol seluruh fungsi di dalam pemerintahan. Artinya, presiden Iran seperti perdana menteri dan majelis syuro tidak bisa menbantah (Khomeini), tidak bisa mengkritiknya atau mengkritik sikap politiknya atau keputusannya.

Syekh Aiman melanjutkan penjelasannya : “Hal itu terus terjadi, hingga menjadi lebih buruk lagi dengan memberikan fasilitas kepada pasukan Amerika untuk menyerang Iraq dan Afghanistan. Kemudian memberikan bantuan kepada kedua pemerintahan bonekanya dengan mengakui eksistensinya, mengusir Syekh Hikmaktyar-semoga Allah menjaganya-dari Iran ketika Karzai menyebutnya sebagai pengkhianat.

Kemudian dia menggunakan kekuasaannya dengan sikap kooperatif bersama pemerintahan boneka Iraq untuk memerangi mujahidin lalu lari pada hari peperangan dengan melarang dakwah menuju jihad melawan Amerika di Iraq dan Afghanistan.

Sebelumnya telah saya sebutkan bahwa pemerintahan Iran memberikan bantuan kepada Ahmad Syah Mas’ud yang telah diakui oleh Amerika secara resmi sebagai anteknya, di dalam laporan konggres setelah kejadian 11 September.”

Kunjungan Ahmadinejad ke Iraq, menjadi bukti!

Kunjungan Amadinejad ke Iraq serta diterimanya di Green Zone di bawah penjagaan dan perlindungan Amerika adalah untuk meneguhkan sejauhmana pemahaman antara Amerika dan Iran dalam menjajah Iraq.

DR. Abdullah An Nafisi menjelaskan hubungan Amerika dengan Iran berkaitan dengan Iraq : “Bahkan Iran dan USA, sangat senang sekali. Artinya persekutuan kerjasama antara Iran dan Amerika di dalam menyerang Taliban di Afghanistan. Dan Iran membuka zona udara bagi tentara Amerika selama dua bulan agar pesawat mereka dapat mengebom Tora Bora, Tandzim Al Qaeda, dan rakyat Afghanistan selama 2,5 bulan. Ini semua adanya kerjasama dengan Iran.

Sedangkan kerjasama setelahnya adalah untuk menghapus para pengikut rezim Iraq sebelumnya. Mereka banyak sekali bekerjasama. Pasukan Amerika yang bertolak dari Kuwait menuju Baghdad melewati gurun pasir An-Nashiriyah, yang membekingi di belakangnya adalah Brigade Badar yang segera masuk setelah pasukan itu melintasi perbatasan Kuwait-Iraq. Brigade Badar masuk melalui Kut Al-Amarah dan Sa’ad Al-Gharbi dan melindungi pasukan Amerika hingga sampai ke Baghdad dan sampai menjatuhkan rezim. Brigade Badar melindungi pasukan Amerika hingga sampai di Baghdad.

Artinya dengan semua ini, bahwa ada kerjasama dan koordinasi yang menguntungkan antara Amerika dengan Iran berkaitan dengan Afghanistan dan juga berkaitan dengan pelengseran rezim Iraq.

Dengan begitu-para prajurit-jika bisa dikatakan begitu-Pentagon berkata bahwa orang-orang Iran adalah orang-orang yang adil dan bijak, mungkin kamu bisa ajak untuk bisnis.”

Sedangkan Sistani (maksudnya adalah Ali As Sistani, ulama Syiah yang tinggal di Iraq), dia adalah penolong terbaik bagi Amerika, dia melarang jihad apapun melawan mereka. Itu sikap representasi dari skandal sejarah dan lari dari perang dan yang dilakukan oleh sumber Syiah tertinggi di Iraq.

Syekh Aiman menjelaskan pengkhianatan Sistani : “Ketika dia merasa Amerika menyerang kuburan Imam Ali r.a., di Najaf, di lari ke Inggris dengan dalih “menjalani operasi.” Padahal itu bukan untuk “menjalani operasi”, tapi hanya pemeriksaan kesehatan, yang sebenarnya bisa dilakukan di Iraq.

Jika begitu, maka hakikat sebenarnya telah terungkap di hadapan seluruh kaum Muslimin ketika dia tidak mengeluarkan fatwa dan kewajiban menenteng senjata melawan penjajah aggressor Salibis Amerika di Iraq dan Afghanistan dari sumber syiah manapun-baik dari dalam maupun luar Iraq. Bahkan tersingkap sikap tidak konsisten mereka.

Jihad yang mereka bolehkan di Lebanon dan Palestina menjadi haram di Iraq dan Afghanistan, bahkan lebih buruk dari itu, bahkan mereka menyebut orang yang melakukan jihad dengan sebutan takfiriyin, Wahabiyin, dan Saddamiyin.

Oleh karena itu, mengapa aku ingatkan kepada semua orang yang mengikuti sumber syiah itu, tentang bolehnya bergabung di bawah bendera Amerika dalam pasukan Iraq dan Afghanistan, namun melarangnya di Lebanon dan Iran?

Karena firman Allah SWT,

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS Maryam (19) : 95).

Setiap manusia akan datang sendirian kepada Rabb nya pada hari kiamat nanti. Dia akan datang bersama orang yang dijadikan sumber dan menjaganya atau membelanya. Pada hari itu semua disibukkan oleh urusan dirinya sendiri.

“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS Abasa (80) : 37)

Iran, yang sering berbicara tentang Palestina, hari Al Quds dan yang semisalnya menggambarkan bahwa manusia tidak mempunyai akal dan menggambarkan bahwa kaum Muslimin tidak menyadari bahwa mereka adalah bagian dari PBB.

Syekh Aiman menjelaskan : “Artinya bahwa Iran berkuasa dengan mengesahkan PBB sebagai sumber selain sumber Islam. Baik sumber itu Dewan Keamanan maupun sumber Majlis Umum PBB. Dan berjanji-berdasarkan komitmen terhadap piagam perjanjian PBB-untuk menghormatinya sebagai kekuasaan tertinggi, perdamaian dan kesatuan Negara Israel sebagai anggota dewan PBB. Bahkan lebih dari itu, mengakui penjajahan Rusia terhadap Chechnya, penjajahan Spanyol atas Ceuta dan Mellila, dan negeri kaum Muslimin lainnya.”

Tujuan utama Iran, pengaruh politik & Persia Iran

Tujuan utama Iran sebenarnya adalah mencari pengaruh politik di manapun yang memungkinkan. Syekh Aiman menjelaskan kondisi Lebanon setelah terjadi perang dengan Israel : “Ketika terjadi perang di Lebanon yang mampu meraih eksistensi politik bagi pengikutnya, maka mereka ikut berperang dan ketika pasukan internasional menyanggupi untuk menjaga keberadaan politik dan militer mereka maka mereka menyetujui pasukan internasional menjajah Lebanon. Mereka juga setuju menggunakan cara kekerasan bagi Palestina, dimana Hassan Nashrullah mengaku sudah begitu lama berusaha untuk membebaskannya, akan tetapi sekarang dia menghindar darinya. Dan ketika bersepakat dengan Amerika dan mengakui akan pemerintahan mereka serta kerjasama dalam pemerintahan dan menghentikan jihad kau Muslimin, serta berperang dibawah Salib mereka, mewujudkan sikap politik mereka di Iraq dan selalu berusaha mencarinya, mereka berkerjasama dengan Amerika dan berperang di bawah Salib mereka.”

DR. Abdullah An Nafisi menjelaskan politik Iran : “Iran bertanggung jawab atas hal itu, karena Iran di antara dua isu, isu membuka diri yaitu isu Islam dan isu umum yaitu isu anti Amerika, anti Israel dan seterusnya. Ini sudah mafhum dan dapat diterima. Akan tetapi isu berkaitan rakyat Iran sebenarnya memiliki isu lain : isu kekuasaan, isu kontrol, isu penugasan Syiah di Iraq.

Aku tidak percaya bahwa rencana Iran adalah rencana Syiah selamanya. Bukan! Itu adalah rencana Persia di dalam negeri Iraq (nasionalisme). Ya, menugaskan Syiah di Iraq demi kemaslahatan rencana Persia Iran.”

DR. Sa’ad Al Faqih, Pemimpin Umum Gerakan Reformasi mengatakan : “Perkataanku ini bukan untuk menyerang Iran dan juga bukan menyerang seorang pun, aku mendapatkan surat-surat asli-yang berkata ; “Kamu dengan jalan ini, kamu katakan bahwa Amerika tidak lebih berbahaya daripada Iran, ini berlawanan dengan kebenaran.”

Syekh Aiman menambahkan : “Jika begitu, isunya adalah isu keberadaan politik dengan harga apapun. Semua itu dengan nama Al Hussain, dan penegakan Negara Ahlul Bait. Sesungguhnya Imam Al Hussain r.a., telah keluar untuk melawan kedzaliman dan kesewenang-wenangan yang menghapus syura dan melenyapkan hukum Islam. Keluar untuk menguatkan kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Oleh karena itu, bagi setiap orang yang mengaku Muslim, (wajib) untuk melawan penjajah asing dan orang-orang yang mengakui pemerintahan yang menjadi antek asing serta yang bekerjasama dengannya. Dan setiap orang yang meminta kepada penjajah untuk memperpanjang keberadaannya demi menjaga keamanan dan stabilitas sudah pasti bukan jalan Imam Al Hussain r.a., tidak berdiri di bawah benderanya serta tidak menghidupkan sunnahnya. Dan setiap orang yang menentang kedzaliman, kelaliman, dan kesewenang-wenangan, aggressor, yang menjajah negeri Islam dan berperang agar kalimat Allah tegak sudah pasti berada di jalan Imam Al Hussain r.a., dan berperang di bawah panjinya.

Oleh sebab itu, orang yang paling utama sebagai pengikut Imam Al Hussain r.a., adalah para mujahidin yang menentang toghut Amerika, merusak dan menggagalkan rencana panjangnya, menyeru menuju ketinggian hukum Islam. Juga menentang pemerintahan antek mereka yang berkhianat dan murtad.”

Allahu Akbar!

*A1
Sebuah fakta yang belum pernah diungkap adalah peran Syiah yang bekerjasama dengan Amerika dalam Perang Salib. Diwaktu para mujahidin berusaha untuk bergabung dari seluruh penjuru dunia Islam dan menyatukan barisan mereka dalam menghadapi pasukan Zionis Salibis, muncullah kelompok pengkhianat dan dajjal di Iraq dan Lebanon dengan bantuan dari Iran, untuk menikam umat Islam dari belakang. Yaitu dengan berkolusi bersama musuh Zionis Salibis dan para antek mereka, demi untuk memusnahkan ahlus sunnah dan memecahkan jaringan mereka.

Berikut penjelasan yang sangat berharga dari Syekh Aiman Azh-Zhawahiri (hfz) dan juga DR. Abdullah An Nafisi tentang hakikat Syiah dan perannya membantu Amerika dalam Perang Salib yang dikutip dari buku Fakta-Fakta Sewindu Perang Salib Baru (Al Fajr Media, Klaten, 2010). Semoga bermanfaat! 

Peran Syiah Iran dan Wilayah Al Faqih

Syekh Aiman Azh-Zhawahiri (hfz) menjelaskan akan pengkhianatan mereka : “Di sini, saya ingin mengklarifikasi sebuah poin. Poin berkaitan dengan sumber Syiah. Yaitu bahwa para ulama Syiah 12 imam secara umum menganggap diri mereka penguasa mutlak bagi imam ke 12 bagi Syiah. Yang selanjutnya mereka memiliki kekuasaan yang tidak boleh diganggu oleh rakyatnya.”

Ahmad Al-Katib (salah seorang penulis syiah) menjelaskan kedudukan Al Faqih (wilayatul faqih) dalam pemerintahan Iran : “Mereka berusaha untuk membuat korelasi antara pandangan otoritas Al Faqih dengan imamah (kepemimpinan). Artinya imam ke 12 memberikan wasiat kepada sebagian Al Faqih menjadi penerusnya sebagai wakil bagi kita. Sehingga setiap Al Faqih datang dan berkata; “Aku sebagai wakil umum imam, oleh karena itu, aku berhak berkuasa dengan cara seperti ini.”

Sebenarnya, ini pandangan yang sangat berbahaya dan memberikan mereka pengesahan untuk membuat kebijakan dalam agama maupun politik secara mutlak dan sangat luas sekali yang lebih mendekati kepada kediktaktoran agama.”

Syekh Aiman menambahkan : “Sedangkan Khomeini dan orang-orang yang setuju tentang otoritas Al Faqih sebagaimana yang ditegaskan oleh Khomeini dalam bukunya, menganggap, ‘Pemerintahan Islam’, bahwa bagi Al Faqih Al Adil semuanya berhak seperti para rasul dan para imam dalam wilayah hukum dan politik. Dan bahwa otoritas para fuqaha adalah otoritas agama dan bersifat ketuhanan, dan bahwa para nabi telah mewakilkan kepada para fuqaha, semua hal dikuasakan kepada para fuqaha serta diamanatkan kepada mereka semua yang mesti diamanatkan.

Kemudian setelah 10 tahun revolusi Iran berjalan, Khomeini menamakan teori itu sebagai “Wilayah Al Faqih Mutlak.”

Dalam surat yang diberikan kepada presiden Iran, Ali Khumaini pada tanggal 16 Jumadil Ula 1408 H, bahwa kekuasaan, yaitu wilayah yang Allah berikan kepada Nabi yang mulia, lebih didahulukan terhadap seluruh cabang kewajiban ilahi, dan bahwa pemerintahan adalah cabang dari wilayah Rasulullah SAW., yang mutlak dan lebih didahulukan daripada cabang kewajiban sampai kewajiban shalat, shaum, dan haji. Dan bahwa pemerintah dapat ditunda hanya dari satu pihak saja, persetujuan bersama yang dibuat bersama rakyat jika dilihatnya akan menyelisihi kemaslahatan negeri maupun Islam. Dan bisa memberhentikan dalam perkara ibadah maupun bukan ibadah, jika membahayakan bagi kepentingan Islam.”

Oleh karena itu, Khomeini menjadikan wali Al Faqih sebuah keabsahan seperti keabsahan Rasulullah SAW.

Ahmad Khatib menambahkan : “Faktanya, bahwa saya yakin adanya teori ini sejak tahun 1988 dimana ketika Imam Khomeini berpandangan dengan teori wilayah mutlak bagi Al Faqih sejak awal perjalanan Negara Iran dan dia melontarkan pandangan ini. Sampai dia mengatakan kepada para pengawal presiden, waktu itu Sayyid Ali Khamaini menjadi presiden. Dimana dia ditanya: “Apa tujuan otoritas mutlak bagi Al Faqih?”

Khomeini menjawab, “Anda tidak seharusnya memahami teori otoritas mutlak bagi Al Faqih.”

Teori ini memberikan kekuatan yang sangat luas. Aku katakana yang sebenarnya, bahwa Al Faqih yang berkuasa itulah yang berhak untuk menghentikn legitimasi kesepakatan yang telah dibuat oleh rakyat. Dia juga yang membuat legalitas kesepakatan bersama umat. Dia berhak memberhentikannya dari satu pihak. Saya fikir kesepakatan ini menyelisihi Islam atau menyelisihi kemaslahatan umat.”

Ketika Khamaini menjabat sebagai penasehat tertinggi maka dia memperluas keabsahan untuk mendasarkan kepada teori otoritas mutlak Al Faqih.

Ahmad Khatib menambahkan lagi : “masuk ke dalam konstitusi amandeman pada tahun 1990 atau 1989, dia menikmati ekspansi keabsahan berdasarkan teori yang dibuat Khamaini. Dan sekarang pada praktiknya, dia mengontrol seluruh fungsi di dalam pemerintahan. Artinya, presiden Iran seperti perdana menteri dan majelis syuro tidak bisa menbantah (Khomeini), tidak bisa mengkritiknya atau mengkritik sikap politiknya atau keputusannya.

Syekh Aiman melanjutkan penjelasannya : “Hal itu terus terjadi, hingga menjadi lebih buruk lagi dengan memberikan fasilitas kepada pasukan Amerika untuk menyerang Iraq dan Afghanistan. Kemudian memberikan bantuan kepada kedua pemerintahan bonekanya dengan mengakui eksistensinya, mengusir Syekh Hikmaktyar-semoga Allah menjaganya-dari Iran ketika Karzai menyebutnya sebagai pengkhianat.

Kemudian dia menggunakan kekuasaannya dengan sikap kooperatif bersama pemerintahan boneka Iraq untuk memerangi mujahidin lalu lari pada hari peperangan dengan melarang dakwah menuju jihad melawan Amerika di Iraq dan Afghanistan.

Sebelumnya telah saya sebutkan bahwa pemerintahan Iran memberikan bantuan kepada Ahmad Syah Mas’ud yang telah diakui oleh Amerika secara resmi sebagai anteknya, di dalam laporan konggres setelah kejadian 11 September.”

Kunjungan Ahmadinejad ke Iraq, menjadi bukti!

Kunjungan Amadinejad ke Iraq serta diterimanya di Green Zone di bawah penjagaan dan perlindungan Amerika adalah untuk meneguhkan sejauhmana pemahaman antara Amerika dan Iran dalam menjajah Iraq.

DR. Abdullah An Nafisi menjelaskan hubungan Amerika dengan Iran berkaitan dengan Iraq : “Bahkan Iran dan USA, sangat senang sekali. Artinya persekutuan kerjasama antara Iran dan Amerika di dalam menyerang Taliban di Afghanistan. Dan Iran membuka zona udara bagi tentara Amerika selama dua bulan agar pesawat mereka dapat mengebom Tora Bora, Tandzim Al Qaeda, dan rakyat Afghanistan selama 2,5 bulan. Ini semua adanya kerjasama dengan Iran.

Sedangkan kerjasama setelahnya adalah untuk menghapus para pengikut rezim Iraq sebelumnya. Mereka banyak sekali bekerjasama. Pasukan Amerika yang bertolak dari Kuwait menuju Baghdad melewati gurun pasir An-Nashiriyah, yang membekingi di belakangnya adalah Brigade Badar yang segera masuk setelah pasukan itu melintasi perbatasan Kuwait-Iraq. Brigade Badar masuk melalui Kut Al-Amarah dan Sa’ad Al-Gharbi dan melindungi pasukan Amerika hingga sampai ke Baghdad dan sampai menjatuhkan rezim. Brigade Badar melindungi pasukan Amerika hingga sampai di Baghdad.

Artinya dengan semua ini, bahwa ada kerjasama dan koordinasi yang menguntungkan antara Amerika dengan Iran berkaitan dengan Afghanistan dan juga berkaitan dengan pelengseran rezim Iraq.

Dengan begitu-para prajurit-jika bisa dikatakan begitu-Pentagon berkata bahwa orang-orang Iran adalah orang-orang yang adil dan bijak, mungkin kamu bisa ajak untuk bisnis.”

Sedangkan Sistani (maksudnya adalah Ali As Sistani, ulama Syiah yang tinggal di Iraq), dia adalah penolong terbaik bagi Amerika, dia melarang jihad apapun melawan mereka. Itu sikap representasi dari skandal sejarah dan lari dari perang dan yang dilakukan oleh sumber Syiah tertinggi di Iraq.

Syekh Aiman menjelaskan pengkhianatan Sistani : “Ketika dia merasa Amerika menyerang kuburan Imam Ali r.a., di Najaf, di lari ke Inggris dengan dalih “menjalani operasi.” Padahal itu bukan untuk “menjalani operasi”, tapi hanya pemeriksaan kesehatan, yang sebenarnya bisa dilakukan di Iraq.

Jika begitu, maka hakikat sebenarnya telah terungkap di hadapan seluruh kaum Muslimin ketika dia tidak mengeluarkan fatwa dan kewajiban menenteng senjata melawan penjajah aggressor Salibis Amerika di Iraq dan Afghanistan dari sumber syiah manapun-baik dari dalam maupun luar Iraq. Bahkan tersingkap sikap tidak konsisten mereka.

Jihad yang mereka bolehkan di Lebanon dan Palestina menjadi haram di Iraq dan Afghanistan, bahkan lebih buruk dari itu, bahkan mereka menyebut orang yang melakukan jihad dengan sebutan takfiriyin, Wahabiyin, dan Saddamiyin.

Oleh karena itu, mengapa aku ingatkan kepada semua orang yang mengikuti sumber syiah itu, tentang bolehnya bergabung di bawah bendera Amerika dalam pasukan Iraq dan Afghanistan, namun melarangnya di Lebanon dan Iran?

Karena firman Allah SWT,

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS Maryam (19) : 95).

Setiap manusia akan datang sendirian kepada Rabb nya pada hari kiamat nanti. Dia akan datang bersama orang yang dijadikan sumber dan menjaganya atau membelanya. Pada hari itu semua disibukkan oleh urusan dirinya sendiri.

“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS Abasa (80) : 37)

Iran, yang sering berbicara tentang Palestina, hari Al Quds dan yang semisalnya menggambarkan bahwa manusia tidak mempunyai akal dan menggambarkan bahwa kaum Muslimin tidak menyadari bahwa mereka adalah bagian dari PBB.

Syekh Aiman menjelaskan : “Artinya bahwa Iran berkuasa dengan mengesahkan PBB sebagai sumber selain sumber Islam. Baik sumber itu Dewan Keamanan maupun sumber Majlis Umum PBB. Dan berjanji-berdasarkan komitmen terhadap piagam perjanjian PBB-untuk menghormatinya sebagai kekuasaan tertinggi, perdamaian dan kesatuan Negara Israel sebagai anggota dewan PBB. Bahkan lebih dari itu, mengakui penjajahan Rusia terhadap Chechnya, penjajahan Spanyol atas Ceuta dan Mellila, dan negeri kaum Muslimin lainnya.”

Tujuan utama Iran, pengaruh politik & Persia Iran

Tujuan utama Iran sebenarnya adalah mencari pengaruh politik di manapun yang memungkinkan. Syekh Aiman menjelaskan kondisi Lebanon setelah terjadi perang dengan Israel : “Ketika terjadi perang di Lebanon yang mampu meraih eksistensi politik bagi pengikutnya, maka mereka ikut berperang dan ketika pasukan internasional menyanggupi untuk menjaga keberadaan politik dan militer mereka maka mereka menyetujui pasukan internasional menjajah Lebanon. Mereka juga setuju menggunakan cara kekerasan bagi Palestina, dimana Hassan Nashrullah mengaku sudah begitu lama berusaha untuk membebaskannya, akan tetapi sekarang dia menghindar darinya. Dan ketika bersepakat dengan Amerika dan mengakui akan pemerintahan mereka serta kerjasama dalam pemerintahan dan menghentikan jihad kau Muslimin, serta berperang dibawah Salib mereka, mewujudkan sikap politik mereka di Iraq dan selalu berusaha mencarinya, mereka berkerjasama dengan Amerika dan berperang di bawah Salib mereka.”

DR. Abdullah An Nafisi menjelaskan politik Iran : “Iran bertanggung jawab atas hal itu, karena Iran di antara dua isu, isu membuka diri yaitu isu Islam dan isu umum yaitu isu anti Amerika, anti Israel dan seterusnya. Ini sudah mafhum dan dapat diterima. Akan tetapi isu berkaitan rakyat Iran sebenarnya memiliki isu lain : isu kekuasaan, isu kontrol, isu penugasan Syiah di Iraq.

Aku tidak percaya bahwa rencana Iran adalah rencana Syiah selamanya. Bukan! Itu adalah rencana Persia di dalam negeri Iraq (nasionalisme). Ya, menugaskan Syiah di Iraq demi kemaslahatan rencana Persia Iran.”

DR. Sa’ad Al Faqih, Pemimpin Umum Gerakan Reformasi mengatakan : “Perkataanku ini bukan untuk menyerang Iran dan juga bukan menyerang seorang pun, aku mendapatkan surat-surat asli-yang berkata ; “Kamu dengan jalan ini, kamu katakan bahwa Amerika tidak lebih berbahaya daripada Iran, ini berlawanan dengan kebenaran.”

Syekh Aiman menambahkan : “Jika begitu, isunya adalah isu keberadaan politik dengan harga apapun. Semua itu dengan nama Al Hussain, dan penegakan Negara Ahlul Bait. Sesungguhnya Imam Al Hussain r.a., telah keluar untuk melawan kedzaliman dan kesewenang-wenangan yang menghapus syura dan melenyapkan hukum Islam. Keluar untuk menguatkan kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Oleh karena itu, bagi setiap orang yang mengaku Muslim, (wajib) untuk melawan penjajah asing dan orang-orang yang mengakui pemerintahan yang menjadi antek asing serta yang bekerjasama dengannya. Dan setiap orang yang meminta kepada penjajah untuk memperpanjang keberadaannya demi menjaga keamanan dan stabilitas sudah pasti bukan jalan Imam Al Hussain r.a., tidak berdiri di bawah benderanya serta tidak menghidupkan sunnahnya. Dan setiap orang yang menentang kedzaliman, kelaliman, dan kesewenang-wenangan, aggressor, yang menjajah negeri Islam dan berperang agar kalimat Allah tegak sudah pasti berada di jalan Imam Al Hussain r.a., dan berperang di bawah panjinya.

Oleh sebab itu, orang yang paling utama sebagai pengikut Imam Al Hussain r.a., adalah para mujahidin yang menentang toghut Amerika, merusak dan menggagalkan rencana panjangnya, menyeru menuju ketinggian hukum Islam. Juga menentang pemerintahan antek mereka yang berkhianat dan murtad.”

Allahu Akbar

Selasa, 16 April 2013

DR. Abdullah Azzam, Ulama Jihad Yang Takkan Terlupakan

“Sheikh Abdullah Azzam bukanlah orang biasa. Dia mewakili satu bangsa, satu Ummat. Tubuh Ummat ada di dalam dirinya. Setelah kematiannya, para muslimah sejauh ini gagal melahirkan seorang laki-laki yang mampu menggantikan Beliau”
As Syahid Syekh Ahmad Yassin

DR. Abdullah Azzam

Bumi Syam | Arrahmah - [Syaikh Usama bin Ladin, wawancara dengan TV Al-Jazeera, 1999] “Dialah yang bertanggung jawab membangkitkan kembali Jihad di abad 20 ini”.

[Majalah Time] “Dia tidak hanya mewakili dirinya sendiri, melainkan seluruh Ummat. Ucapannya tidaklah seperti ucapan orang biasa. Sedikit bicaranya, namun kandungannya sangat dalam. Jika engkau menatap matanya, hatimu akan terpenuhi dengan iman dan cinta kepada Allah SWT”.

[Ulama Mujahid asal Mekkah] ” Tidak satupun Tanah Jihad di seluruh dunia, tidak seorangpun Mujahid yang berjuang di Jalan Allah, yang tidak terinspirasi oleh hidup, ajaran dan karya Sheikh Abdullah Azzam”.

[Azzam Publications] ” Pada dekade 1980-an, Syuhada Sheikh Abdullah Azzam mencetuskan satu kalimat yang maknanya bergaung di seluruh medan pertempuran Chechnya saat ini. Sheikh Abdullah Azzam Rahmatullah ‘Alaihi menggambarkan bahwa Para Mujahid yang gugur dalam pertempuran bergabung bersama “Kafilah Para Syuhada”.

Abdullah Yusuf Azzam lahir pada tahun 1941 di Desa Asba’ah Al-Hartiyeh, Propinsi Jiniin, Tanah Suci Palestina yang diduduki Israel. Beliau dibesarkan di sebuah rumah yang bersahaja dimana Beliau dididik agama Islam, ditanamkan kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya SAW, terhadap Mujahid yang berjuang di Jalan-Nya dan terhadap orang-orang yang shaleh yang mencintai kehidupan akhirat. Semasa masih kanak-kanak, Abdullah Azzam sangat menonjol di antara anak-anak lainnya. Beliau sudah mulai menyiarkan dakwah Islam semenjak masih sangat muda. Teman-teman sepergaulan mengenal Beliau sebagai seorang anak yang shaleh.

Beliau telah menunjukkan tanda-tanda yang luar biasa sejak muda dan guru-guru Beliau telah mengenali tanda-tanda ini sejak Beliau masih di Sekolah Dasar. Sheikh Abdullah Azzam dikenal karena ketekunan dan kesungguhannya bahkan sejak masih kecil, Beliau memperoleh pendidikan dasar dan menengah di desanya dan kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Pertanian Khadorri hingga memperoleh gelar.

Meskipun Beliau yang termuda di antara teman-temannya, namun Beliau adalah yang terpandai dan terpintar. Setelah menamatkan pendidikannya di Khadorri Beliau bekerja sebagai guru di Desa Adder, Yordania Selatan. Kemudian Beliau menuntut ilmu di Fakultas Syariah, Universitas Damaskus Suriah hingga memperoleh gelar B.A. di bidang Syariah pada tahun 1966.

Ketika tentara Yahudi merebut Tepi Barat pada tahun 1967, Sheikh Abdullah Azzam memutuskan untuk pindah ke Yordania, karena Beliau tidak ingin hidup di Palestina yang berada di bawah pendudukan Yahudi. Melihat bagaimana tank-tank Israel maju memasuki Tepi Barat tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti, menimbulkan perasaan bersalah dalam diri Beliau, sehingga membuat Beliau semakin mantap untuk hijrah dengan maksud agar dapat mempelajari ilmu perang.

Pada akhir dekade 1960-an, dari Yordania Beliau bergabung dalam Jihad menentang pendudukan Israel atas Palestina. Tidak lama kemudian Beliau pergi belajar ke Mesir dan memperoleh gelar Master dalam bidang Syariah di Universitas Al-Azhar, Kairo. Pada tahun 1970, setelah Jihad terhenti karena kekuatan PLO diusir keluar dari Yordania, Beliau menjadi dosen di Universitas Yordania di Amman. Setahun kemudian, tahun 1971, Beliau memperoleh beasiswa dari Universitas Al-Azhar dimana Beliau melanjutkan pendidikan S3 dan memperoleh gelar Ph.D dalam bidang Pokok-Pokok Hukum Islam (Ushul-Fiqh) tahun 1973.

Selama di Mesir inilah Beliau mengenal keluarga Syuhada Sayyid Qutb (1906-1966). Sheikh Abdullah Azzam cukup lama turut serta dalam Jihad Palestina. Namun ada hal yang tidak disukainya, yaitu orang-orang yang terlibat di dalamnya sangat jauh dari Islam. Beliau menggambarkan bagaimana orang-orang ini berjaga-jaga sepanjang malam sambil bermain kartu dan mendengarkan musik, dan menganggap bahwa mereka sedang menunaikan Jihad untuk membebaskan Palestina. Sheikh Abdullah Azzam menyebutkan juga meskipun ada ribuan orang di basis-basis pemukiman, tetapi jumlah orang yang hadir untuk shalat berjama?ah bisa dihitung dengan satu tangan saja. Beliau berusaha mendorong mereka untuk menerapkan Islam sepenuhnya, namun mereka bertahan untuk menolak.

Suatu hari Beliau bertanya kepada seorang “Mujahid” secara retoris, agama apa yang ada di belakang revolusi Palestina, “Mujahid” itu menjawab dengan jelas dan gamblang, “Revolusi ini tidak memiliki dasar agama apapun”.

Habislah sudah kesabaran Abdullah Azzam. Beliau kemudian meninggalkan Palestina, pindah ke Saudi Arabia dan mengajar di berbagai universitas di sana.Saat Sheikh Abdullah Azzam menyadari bahwa hanya dengan kekuatan yang terorganisir Ummat ini bisa menggapai kemenangan, lalu Jihad dan senjata adalah kesibukan dan pengisi waktu luangnya.

“Jihad hanya dengan senjata. TIDAK dengan Negosiasi, TIDAK dengan Perundingan Damai, TIDAK dengan Dialog”

Kalimat tersebut menjadi semboyan Beliau. Beliau praktekkan apa yang selalu Beliau kumandangkan, sehingga membuat Beliau menjadi salah satu di antara orang Arab pertama yang bergabung dalam Jihad di Afghanistan melawan Uni Soviet yang komunis. Pada tahun 1980, ketika masih di Saudi Arabia, Abdullah Azzam memperoleh kesempatan berjumpa dengan satu delegasi Mujahidin Afghanistan yang datang untuk menunaikan ibadah Haji. Segera Beliau tertarik dengan kelompok ini dan ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai Jihad Afghanistan. Ketika dijabarkan kepadanya,

Beliau merasa inilah yang sudah sejak lama sekali Beliau cari-cari.Beliau segera melepaskan jabatannya sebagai dosen di Universitas King Abdul-Aziz Jeddah Saudi Arabia, dan berangkat menuju Islamabad Pakistan supaya dapat ikut serta dalam Jihad. Beliau pindah ke Pakistan agar dapat lebih dekat dengan Jihad Afghanistan, dan di sanalah Beliau mengenal pemimpin-pemimpin Mujahidin. Saat-saat pertama berada di Pakistan, Beliau ditunjuk untuk memberikan kuliah di International Islamic University di Islamabad. Namun tidak lama hal ini berlangsung, karena Beliau memutuskan untuk meninggalkan universitas agar bisa mencurahkan seluruh waktu dan energinya untuk Jihad Afghanistan.

Pada permulaan dekade 1980-an, Sheikh Abdullah Azzam langsung turun ke medan Jihad Afghanistan. Di Jihad inilah Beliau merasa puas bisa memenuhi kerinduan dan cinta yang tak terlukiskan untuk berjuang di Jalan Allah, persis seperti suatu kali Rasulullah SAW bersabda : “Berdiri satu jam dalam pertempuran di Jalan Allah lebih baik daripada berdiri menunaikan shalat selama enam puluh tahun”.

Terinspirasi oleh Hadits ini, Sheikh Abdullah Azzam beserta keluarganya memutuskan pindah ke Pakistan agar lebih dekat dengan medan Jihad. Tidak lama setelah itu Beliau pindah lagi dari Islamabad ke Peshawar supaya bisa lebih dekat lagi dengan medan Jihad dan Syahid.Di Peshawar, bersama dengan Usama bin Ladin yang juga teman dekatnya, Sheikh Abdullah Azzam mendirikan Baitul-Anshar (Mujahideen Services Bureau atau Kantor Pelayanan Mujahidin) dengan tujuan untuk menawarkan semua bantuan yang memungkinkan bagi Jihad Afghanistan dan Para Mujahid dengan cara mengadakan dan me-manage berbagai proyek yang menunjang Jihad. Kantor ini juga menerima dan melatih para sukarelawan (Foreign Mujahideen) yang berbondong-bondong datang ke Pakistan untuk ikut serta dalam Jihad dan mengatur penempatan mereka di garis depan.

Dapat diduga, semua hal ini masih belum cukup memuaskan keinginan Sheikh Azzam yang menggebu-gebu berjihad. Keinginan inilah yang akhirnya membawanya pergi ke garis depan. Di medan pertempuran Sheikh Abdullah Azzam mengambil peranan dengan sikap ksatria dalam perjuangan yang penuh dengan pengorbanan yang besar. Di Afghanistan Beliau jarang menetap di suatu tempat. Beliau selalu berkeliling ke seluruh pelosok negeri mengunjungi hampir seluruh propinsi dan wilayah seperti Logar, Kandahar, Pegunungan Hindukush, Lembah Panshir, Kabul dan Jalalabad.

Dalam kunjungan ini, Sheikh Abdullah Azzam menyaksikan secara langsung kepahlawanan orang-orang awam yang telah mengorbankan segala apa yang dimiliki termasuk jiwa mereka demi jayanya Dien Islam. Di Peshawar, setelah kembali dari berkeliling, Sheikh Azzam selalu berbicara tentang Jihad secara kontinyu. Beliau selalu berdo’a agar Para Komandan Mujahidin yang terpecah belah dapat bersatu padu. Beliau selalu mengundang orang-orang yang belum bergabung dalam pertempuran untuk memanggul senjata dan maju ke garis depan sebelum terlambat.

Abdullah Azzam sangat dipengaruhi oleh Jihad Afghanistan dan Beliaupun sangat besar pengaruhnya pada Jihad ini sejak Beliau mengabdikan diri sepenuhnya dalam perjuangan ini. Beliau menjadi salah satu tokoh yang paling menonjol dan berpengaruh bersama dengan pemimpin-pemimpin bangsa Afghanistan lainnya. Beliau tidak tanggung-tanggung mempromosikan perjuangan Afghanistan ke seluruh dunia, khususnya ke kalangan Ummat Islam. Beliau berkeliling dunia, menyampaikan panggilan kepada Kaum Muslimin untuk beraksi mempertahankan agama dan Tanah Muslim. Beliau menulis sejumlah buku tentang Jihad, seperti Join the Caravan, Signs of Ar-Rahman in the Jihad of the Afghan, Defence of the Muslim Lands dan Lovers of the Paradise Maidens. Bahkan Beliau turun langsung ke medan Jihad Afghanistan, meskipun usia Beliau telah lebih dari 40 tahun.

Beliau menjelajahi Afghanistan, dari utara ke selatan, dari timur ke barat, menembus salju, mendaki pegunungan, di bawah panas terik matahari dan dingin yang membekukan tulang, dengan menunggang keledai maupun berjalan kaki. Banyak Pemuda yang bersama Beliau kelelahan, namun Sheikh Abdullah Azzam tidak. Beliau merubah pandangan Ummat Islam terhadap Jihad di Afghanistan dan menjadikan Jihad ini sebagai perjuangan yang Islami yang merupakan kewajiban seluruh Ummat Islam di dunia. Hasil dari usaha ini adalah Jihad Afghanistan menjadi universal dimana Ummat Islam dari seluruh dunia turut serta. Para Pejuang Muslim dari seluruh penjuru dunia secara sukarela berdatangan ke Afghanistan untuk memenuhi kewajiban Jihad dan membela Saudara-saudara Muslimin dan Muslimah mereka yang tertindas.

Kehidupan Sheikh Azzam berkisar hanya kepada satu tujuan, yakni menegakkan Hukum Allah di muka bumi ini, yang merupakan tanggung jawab yang pasti bagi setiap dan segenap Ummat Muslim. Dalam rangka melaksanakan tugas suci dalam hidup ini yaitu menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah (negara yang berdasarkan pada hukum Islam), Sheikh Azzam mengkonsentrasikan kepada Jihad (perjuangan bersenjata untuk menegakkan Islam). Beliau berkeyakinan bahwa Jihad wajib dilaksanakan sampai Khilafah Islamiyyah ditegakkan sehingga cahaya Islam menerangi seluruh dunia.

Beliau juga menjaga dan memelihara keluarganya dengan semangat perjuangan yang sama, sehingga istrinya, sebagai contoh, aktif mengurus anak-anak yatim piatu dan aktif dalam berbagai tugas kemanusiaan di Afghanistan. Beliau menolak jabatan di beberapa universitas dengan menyatakan bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan Jihad kecuali jika gugur di medan perang atau terbunuh. Beliau selalu menekankan kembali bahwa tujuannya yang terakhir adalah membebaskan Tanah Suci Palestina. Dalam hal ini Beliau menyatakan: “Saya tidak akan meninggalkan Tanah Jihad kecuali karena tiga hal. Pertama, saya terbunuh di Afghanistan. Kedua, saya terbunuh di Pakistan. Ketiga, saya diborgol dan diusir dari Pakistan”

Jihad di Afghanistan telah membuat Abdullah Azzam menjadi penyangga utama dalam gerakan Jihad di jaman modern sekarang. Dengan turun langsung dalam Jihad ini dan dengan mempromosikannya serta menjelaskan kendala-kendala yang menghambat gerakan Jihad, Beliau memiliki peranan yang sangat berarti dalam meluruskan pendapat Ummat Islam tentang Jihad dan perlunya menegakkan Jihad. Beliau menjadi panutan bagi generasi muda yang menyambut panggilan Jihad. Beliau amat mementingkan Jihad dan butuh akan Jihad. Sekali waktu Beliau berkata :“Saya merasa seolah-olah berumur 9 tahun. Tujuh setengah tahun dalam Jihad di Afghanistan dan satu setengah tahun dalam Jihad di Palestina. Sisa tahun lainnya tidak berarti sama sekali”.

Dari atas mimbar Sheikh Azzam berulangkali menekankan keyakinannya : “Jihad tidak boleh ditinggalkan sampai hanya Allah SWT saja yang disembah. Jihad akan terus berlangsung sampai Kalimat Allah ditinggikan. Jihad sampai semua orang yang tertindas dibebaskan. Jihad untuk melindungi kehormatan kita dan merebut kembali Tanah kita yang dirampas. Jihad adalah Jalan untuk mencapai kejayaan abadi?.

Sejarah dan semua orang yang mengenal dekat Sheikh Abdullah Azzam mencatat keberanian Beliau dalam berbicara tentang kebenaran, dengan mengabaikan segala konsekuensi yang ada.Setiap saat Sheikh Abdullah Azzam mengingatkan seluruh Kaum Muslimin bahwa :“Ummat Islam tidak dapat dikalahkan oleh ummat lainnya. Kita Ummat Islam tidak akan dikalahkan oleh musuh-musuh kita, namun kita bisa dikalahkan oleh diri kita sendiri”.

Sheikh Abdullah Azzam adalah contoh seorang yang berperilaku Islami dengan baik, dengan amal shalehnya, dengan ketaqwaannya kepada Allah SWT dan dengan kesederhanaannya dalam segala hal. Beliau tidak pernah mencemari hubungan baiknya dengan orang lain. Sheikh Azzam selalu mendengarkan pendapat Para Pemuda, Beliau amat disegani dan tidak terbersit sedikitpun rasa takut di dalam hatinya. Beliau selalu berpuasa selang seling hari seperti yang dilakukan Nabi Daud AS. Dan juga selalu menghimbau yang lainnya untuk berpuasa hari Senin dan Kamis. Sheikh Azzam adalah orang yang selalu berterus terang, tulus dan mulia. Beliau tidak pernah mencaci orang lain atau berbicara yang tidak baik mengenai orang lain.Satu saat sekelompok Muslim yang tidak puas di Peshawar mencap Sheikh Azzam sebagai kafir dan menuduhnya meminta uang dari Kaum Muslimin untuk dihambur-hamburkan. Ketika Sheikh Azzam mendengar hal ini, Beliau tidak mencari dan mendebat mereka, malah mengirimi mereka berbagai hadiah. Namun kelompok tersebut tetap saja mencaci maki, mengumpat dan memfitnah Beliau, dan Beliau terus saja mengirimi mereka hadiah lainnya. Bertahun-tahun kemudian, ketika akhirnya menyadari kesalahannya, mereka berkomentar :

“Demi Allah, kami belum pernah menemui seseorang seperti Sheikh Abdullah Azzam. Beliau tetap saja memberi kami uang walaupun kami selalu mengutuk dan mencaci Beliau”

Selama Jihad Afghanistan berlangsung, Beliau telah berhasil menyatukan berbagai kelompok Mujahidin dalam Jihad ini. Dan tentu saja kebanggaan Beliau terhadap Islam menimbulkan rasa benci di kalangan musuh agama, sehingga musuh membuat rencana untuk menghabisi nyawa Beliau. Pada November 1989, sejumlah bahan peledak TNT diletakkan di bawah mimbar dimana Beliau selalu menyampaikan khutbah setiap hari Jum?at. Demikian besar jumlah peledak tersebut sehingga seandainya meledak akan menghancurkan seluruh Masjid termasuk apa saja dan siapa saja yang ada di dalamnya. Ratusan Muslimin dapat terbunuh. Namun Allah memberikan perlindungan-Nya dan bom tersebut tidak meledak.

Musuh-musuhpun semakin berhasrat melaksanakan rencana gilanya. Mereka mencobanya sekali lagi di Peshawar, tidak lama berselang setelah kejadian tersebut. Ketika itulah Allah SWT berkehendak agar Sheikh Abdullah Azzam meninggalkan dunia ini menuju haribaan-Nya (kita berharap demikian Insya Allah). Dan Sheikh wafat dengan cara yang gemilang pada hari Jum’at 24 November 1989 pukul 12.30 siang.Musuh-musuh Allah meletakkan tiga bom di jalan yang sempit dimana hanya bisa dilewati satu mobil saja. Jalan tersebut adalah jalan yang biasa dilalui oleh Sheikh Abdullah Azzam untuk menunaikan shalat Jum’at. Pada hari Jum’at itu, Sheikh Azzam bersama dengan dua anaknya, Ibrahim dan Muhammad, serta salah seorang anak Syuhada Sheikh Tamim Adnani (salah seorang Pahlawan Jihad Afghanistan lainnya), melalui jalan tersebut. Mobil pun berhenti di mana bom yang pertama berada, dan Sheikh Azzam turun untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Musuh-musuh yang sudah menanti segera memicu bom yang telah mereka persiapkan tersebut. Bunyi ledakan dahsyat mengguncang hebat terdengar di seluruh penjuru kota.

Orang-orang berhamburan keluar dari Masjid, dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Hanya sedikit saja yang tersisa dari kendaraan yang hancur lebur. Tubuh anaknya yang kecil, Ibrahim, terlempar ke udara sejauh 100 meter, demikian pula dengan kedua anak lainnya, beterbangan pada jarak yang hampir sama. Potongan-potongan tubuh mereka tersebar di pohon-pohon dan kawat-kawat listrik. Sementara tubuh Syahid Sheikh Abdullah Azzam tersandar di dinding, tetap utuh dan tidak cacat sama sekali, kecuali sedikit darah terlihat mengalir dari mulut Beliau.

Ledakan itu telah mengakhiri perjalanan hidup Sheikh Abdullah Azzam di dunia, yang telah Beliau lalui dengan baik melalui perjuangan, daya upaya sepenuhnya, dan pertempuran di Jalan Allah SWT. Hal ini semakin menjamin kehidupannya yang sebenarnya dan abadi di Taman Surga -kita memohon kepada Allah demikian, dan menikmatinya bersama dengan teman-teman yang mulia yakni : “Dan barangsiapa yang mena?ati Allah dan Rasul-Nya mereka ini akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Para Rasul, Para Shiddiqiin, Orang-orang yang mati Syahid dan Orang-orang Shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” [QS An-Nisaa:69]

Dengan cara seperti inilah Pahlawan Besar dan Penggerak Kebangkitan Islam meninggalkan medan Jihad dan dunia ini, dan tidak akan pernah kembali lagi. Beliau dimakamkan di Makam Para Syuhada Pabi di Peshawar Pakistan, dimana Beliau bergabung bersama-sama dengan ratusan Syuhada lainnya. Semoga Allah menerima Beliau sebagai Syuhada dan menganugerahinya tempat tertinggi di Surga. Pertempuran yang telah Beliau lalui dan telah Beliau perjuangkan tetap berlanjut melawan musuh-musuh Islam. Tidak satupun Tanah Jihad di seluruh dunia, tidak seorangpun Mujahid yang berjuang di Jalan Allah, yang tidak terinspirasi oleh hidup, ajaran dan karya Sheikh Abdullah Azzam Rahmatullah ‘Alaihi.

Kita memohon kepada Allah SWT untuk menerima amal ibadah Beliau dan menempatkan Beliau di Surga Tertinggi. Kita memohon kepada Allah SWT untuk membangkitkan dari Ummat ini Ulama-Ulama lain sekaliber Beliau, yang menerapkan pengetahuannya di medan perjuangan, bukan hanya menyimpannya di dalam buku dan di dalam Masjid saja.Melalui biografi ini, kami merekam kejadian-kejadian dalam sejarah Islam selama sepuluh tahun terakhir dari tahun 1979 hingga 1989, dan akan terus berlanjut sebagaimana Sheikh Abdullah Azzam berkata :

“Sesungguhnya sejarah Islam tidaklah ditulis melainkan dengan darah Para Syuhada, dengan kisah Para Syuhada, dengan teladan Para Syuhada”“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” [QS At-Taubah:32-33].

Buku-buku yg ditulis oleh Dr Abdullah Azzam diantaranya ialah ;

· Ayaturrahman fi jihadil Afghan

· Addifak ‘an aradhil muslimin min ahammi furdhul ‘iyan (mempertahankan Bumi Umat Islam – Fardhu Ain yg terpenting)

· Akidah dan Kesannya dlm Membentuk Masyarakat

· Adab/Tatatertib dan Hukum-hukum dalam Jihad

· Islam dan masa Depan Kemanusian

· Menara Api yg Hilang

· Hukum berjuang/beramal dlm berjamaah

Sejak Abdullah Azzam syahid, Maktab Khidmat al Mujahidin (terletak di Peshawar) mengumpulkan berbagai petikan khutbah dan ceramahnya kemudian dibukukan sehingga mencapai 50 judul, diantaranya;

· seri Tarbiyah Jihadiyah Wal Bina’ yg mencapai 26 jilid,

· Hijrah dan I’dad 3 juz/jilid.

· Fi Zhilali Suratti Taubah 2 Juz.

· Fiqh dan Ijtihad dlm Jihad 3 jilid

· Perkataan-perkataan dari Garisan Api pertama 3 jilid

· Dibawah Gelora peperangan 4 jilid

· Pengajaran dari Sirah Rasulullah SAW

· Keruntuhan Khilafah dan Pembinaan kembali

Judul-judul di atas adalah merupakan buku-buku yg penting saja sedangkan di sana terdapat berpuluh-puluh lagi buku-buku karangan As-syahid dan buku2 yg ditulis mengenainya.

Referensi:

– Orisinil in english : http://www.azzam.com/

http://www.hudzaifah.org/